Temu Ilmiah Regional (Temilreg) Jawa Barat kembali diadakan pada tahun ini di Universitas Siliwangi, Tasikmalaya. Agenda tahunan FoSSEI Regional Jawa Barat (Jabar) ini diselenggarakan pada 4-7 Februari 2019, dan diikuti oleh sejumlah Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) dari 16 kampus di Jawa Barat. Agenda Temilreg Jabar kali ini menjadi sangat spesial, karena juga dihadiri oleh Wakil Gubernur Jabar yang juga berasal dari Tasikmalaya.

Selain itu turut hadir pula beberapa pembicara dari berbagai kalangan yang turut berperan mensukseskan agenda Temilreg Jabar 2019 ini, diantaranya Teguh Imam Saptono (Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia), Akhmad Akbar Susamto (Ketua Umum Korps Alumni FoSSEI), Iman Aryadi (Pengurus MPP KA FoSSEI & MPS KA FoSSEI Bandung), Prof. Kartawan (Ketua MES Tasilmalaya), dan perwakilan dari Universitas Siliwangi.

Mewakili KA FoSSEI, Akbar mengatakan pentingnya Temilreg sebagai sarana penguatan ikatan dalam mendakwahkan ekonomi Islam. “Kehadiran para peserta Temilreg semestinya bukan semata-mata untuk berlomba, untuk menang dan mengejar hadiah, melainkan untuk menguatkan ikatan sebagai bagian dari FoSSEI. Sebuah jejaring mahasiswa tingkat nasional yang memiliki misi membumikan ajaran Islam dalam bidang ekonomi”, ujar Akbar.

Dosen UGM itu juga mengatakan hendaknya sarana Temilreg ini bisa melahirkan tokoh baru ekonomi Islam kedepannya. “FoSSEI adalah satu-satunya jejaring mahasiswa tingkat nasional yang memiliki agenda temu ilmiah secara terstruktur, mulai dari Temilreg hingga Temilnas. Hasil dari keikutsertaan dalam Temilreg tidak boleh sekedar dilihat dalam jangka pendek. Tetapi juga jangka panjang. Tentang bagaimana para peserta Temilreg dapat mengasah kemampuan mereka, sehingga suatu saat dapat menjadi tokoh-tokoh baru ekonomi Islam”, tambahnya.

Terakhir, Akbar juga berharap agar militansi kader FoSSEI tetap berlanjut meskipun telah menjadi alumni nantinya, “menjaga momentum pengembangan ekonomi syariah tidak selalu mudah. Sebab, pengembangan ekonomi syariah merupakan proses yang sangat panjang. Ibarat lari, pengembangan ekonomi syariah adalah maraton, bukan sprint.”

“Oleh karena itu, pengembangan ekonomi syariah membutuhkan persistensi dari orang-orang yang melaksanakannya. Terlebih di kalangan pegiat ekonomi syariah, seperti mahasiswa yang tergabung dalam jejaring FoSSEI dan para alumni yang terganung dalam KA-FoSSEI”, tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *